"Ingatan-ingatan yang Dibongkar Muat"

Cetak Sublimasi di atas kain
Dimennsi bervariasi
2019

Membicarakan pelabuhan Merak dan Bakaheuni seakan kita menemui banyak hal yang dibongkar dan dimuat di gudang laut. Kita bisa menjumpai cerita-cerita transmigran yang mempertanyakan identitasnya, atau napak tilas dari jaman keemasan pelabuhan Merak dengan komoditas yang dibongkar dan muat, kisah bagaimana pelabuhan ini turut membantu upaya mencapai kemerdekaan, atau masa perjuangan Sultan Ageng Tirtayasan melawan monopoli dagang VOC terhadap Banten. Karya ini menjadi sebuah perjalanan ziarah yang melintasi waktu dan jarak.

Wulang Sunu bekerja dan tinggal di Yogyakarta. Untuk memperkaya pengalamannya dalam seni khususnya teater boneka, lulusan Institut Seni Indonesia ini juga bergabung dengan kelompok teater boneka populer asal Yogyakarta, Papermoon Puppet Theatre (2011-2016). Di Studio Batu yang ikut didirikannya pada 2013, bersama yang lain, Wulang Sunu mengembangkan film pendek, pertunjukan visual, dan seni visual sebagai cara untuk menyampaikan cerita atau ide. Salah satu film yang mereka produksi telah menang di Singapore International Film Festival sebagai film pendek terbaik berjudul Prenjak (In the Year of Monkey). Sebagai seniman independen, Wulang Sunu juga mengembangkan karya pribadinya dengan menggunakan berbagai media, mulai dari menggambar, melukis, instalasi, kinerja visual, pemetaan video, dan animasi. Dalam karya-karyanya, Wulang Sunu mengeksplorasi atau mendiskusikan sesuatu yang terjadi di sekitarnya, di antaranya kekuatan, sejarah, teknologi, dan mitos yang selalu memikat baginya. Saat ini, Wulang Sunu sedang mengembangkan karya terbarunya menggunakan kinerja visual tentang hubungan manusia dan hewan.