"Mirror Memory"

Mural di dinding
4.3 m x 1.6 m
2019

Banyak cerita dan kenangan bisa dibekukan dalam selembar foto. Slinat biasa berkarya menggunakan foto-foto lama untuk kemudian dituangkan di dinding besar menjadi mural agar bisa dinikmati bersama.

Di H(ART)BOUR Festival, SLINAT menghadirkan kembali apa yang dahulu selalu menjadi bagian di pelabuhan, yaitu pedagang kaki lima melalui mural yang dibuatnya berdasarkan foto-foto lama yang ia temukan.

SLINAT (Silly in Art) yang lahir di Bali, mulai berkarya mural, wheatpaste, stensil di jalan, dan juga berkarya di ruang pamer sejak 2000 menggunakan bahan alami dan media temuan [barang bekas]. Dikenal sebagai SLINAT sejak 2009, awalnya, ia selalu mengangkat tema-tema sosial dan alam dalam karya-karyanya. Namun sejak 2012, SLINAT merespon tema tentang Bali. Di balik Bali yang eksotis (kutipan dari antropolog degung Santikarma dari obrolan-obrolannya), SLINAT menerjemahkan jargon promosi pariwisata Bali, “Visit Bali Year” menjadi X Visit Bali Year X sebagai bentuk parodi. Dalam karya-karya visualnya, SLINAT memakai objek foto Bali kuno yang ia rekonstruksi dengan membubuhkan gambar masker gas. Ia ingin mendaur ulang ingatan tentang Bali. Jika kita melihat foto Bali kuno, otomatis kita teringat Bali yang indah, damai, berkebudayaan, dan lain-lain. Namun, Bali hari ini adalah Bali yang berbeda. Melalui karya-karyanya, SLINAT ingin memperlihatkan kenyataan, melihat Bali hari ini yang ada dan nyata.