"Jangan Repot-repot"

Mural di dinding, cutout wood print
Dimensi bervariasi
2020

Ketika berpergian, melangkahi lautan atau perbatasan, buah tangan menjadi bagian dari catatan perjalanan; baik pada keberangkatan dan lebih seringnya lagi, kepulangan. Baik dalam kunjungan kerja, keluarga atau sekadar berkelana.
Buah tangan adalah bahasa pertukaran: rasa dan pengalaman, tanda bukti dan seintip cerminan akan sebuah kehidupan di seberang. Sebuah pemantik dialog yang membuka jendela lebar-lebar. Sebuah undangan yang belum bernama.
Niat adalah modal utama karena murah- mahal adalah kebijakan yang relatif. Yang lebih penting terhitung adalah akses, prioritas, kerajinan, ide, kesempatan dan kesukarelaan. Variabel-variabel inilah yang justru menjadikannya istimewa, walau sedikit-banyak, ya tentu merepotkan.

Kali ini, cerita apa yang akan kamu bawa ke seberang?

Ruth Marbun adalah seorang seniman visual yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Awalnya ia belajar dan bekerja dalam industri fashion sebelum memutuskan untuk fokus dengan pengkaryaan seni rupa pada 2014. Ruth memiliki ketertarikan akan konektivitas pada hubungan antara manusia, terutama pada proses adaptasi dan ketahanan. Proses berpikir tersebut divisualisasi melalui dekonstruksi figur baik dalam lukisan, karya tekstil dan instalasi. Karya-karyanya sudah dipresentasikan dalam pameran di Indonesia, Australia dan Jepang.